kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian ,
tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh
kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang
memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya
melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya
dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll. di
Indonesia banyak sekali peristiwa kemiskinan tersebut, foktor kemiskinan itu
seperti:
1
Pendapatan Per Kapita Penduduk
Tingginya
pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan terlalu berdampak apabila tidak
disertai dengan perbaikan dalam hal distribusi pendapatan. Perubahan pendapatan
per kapita mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kemiskinan. Peningkatan
pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai oleh Indonesia
hanya dinikmati oleh sebagian kecil penduduk. Sementara sebagian besar penduduk
yang saat ini hidup dalam kemiskinan tidak menikmati capai tersebut. Dengan
kata lain meskipun ekonomi tumbuh dengan baik, tetapi mereka tetap berada dalam
kemiskinan. Peningkatan kontra prestasi (gaji, honor, upah, dan bentuk lain)
yang selama ini terjadi di Indonesia hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Peningkatan kontra prestasi tersebut tidak sampai menyentuh pada kelompok yang
berada pada garis kemiskinan.
2 Rasio Ketergantungan Penduduk
Kemiskinan
juga dipengaruhi oleh rasio ketergantungan penduduk. Besarnya penduduk yang
beraktifitas sebagai ibu rumah tangga, menganggur, dan sedang sekolah akan
semakin memperbesar rasio ketergantungan penduduk. Tingkat pendidikan tidak
berpengaruh signifikan terhadap pengurangan faktor penyebab kemiskinan. Artinya
jikalau nantinya penduduk yang saat ini sedang sekolah
(SMP/SMA/Diploma/Sarjana) telah lulus, maka kehadira mereka tidak akan membantu
mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Tetapi kehadiran mereka justru akan
menambah besar nilai rasio ketergantungan. Dengan kata lain kemungkinan mereka
untuk menjadi pengangguran lebih besar karena sistem pendidikan yang tidak
memiliki link and match dan miskin praktek/ keterampilan.
Meningkatnya
rasio ketergantungan akan meningkatkan proporsi populasi yang hidup dalam
kemiskinan. Angka kelahiran yang tinggi berimplikasi pada tingginya rasio
ketergantungan. Negara-negara berkembang di Asia yang sukses mengurangi angka
kelahiran, maka rasio ketergantungannya relatif rendah. Kemiskinan akan
meningkat seiring dengan meningkatnya rasio ketergantungan.
Faktor
penyebab munculnya rasio ketergantungan adalah adanya tingkat kelahiran yang
tinggi. Penyebab kemiskinan adalah adanya ledakan penduduk yang tidak terkendali
karena ledakan penduduk akan menimbulkan pola hidup yang serba pas-pasan.
Masyarakat miskin tidak akan pernah berhasil mencapai taraf hidup yang lebih
tinggi dari tingkat subsiten, kecuali apabila mereka mengadakan pemeriksaan
pengendalian preventif terhadap pertumbuhan populasi mereka, atau dengan
menerapkan pengendalian kelahiran. Apabila setiap keluarga memiliki tiga orang
anak yang berarti dalam satu keluarga akan terdiri dari lima jiwa. Semakin
besar jumlah anak maka semakin besar jumlah tanggungan yang harus di tanggung
oleh kepala keluarga. Selanjutnya semakin besar jumlah penduduk yang berusia
tidak produktif makan semakin besar tanggungan yang harus di tanggung oleh
penduduk usia produktif.
3 Pertumbuhan Ekonomi
Tidak
ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi tidak mampu mengurangi munculnya kemiskinan. Karena
pertumbuhan ekonomi yang tinggi justru hanya memicu munculnya kesenjangan
pendapatan dan in-equality. Pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap
upaya menaikkan pendapatan penduduk miskin serta pertumbuhan ekonomi tidak bisa
mengurangi ketimpangan pendapatan antara orang kaya dan orang miskin. Tingginya
pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan terlalu berdampak apabila tidak disertai
dengan perbaikan dalam hal distribusi pendapatan. Perubahan pendapatan per
kapita mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kemiskinan dan semakin besar
ketimpangan distribusi pendapatan (gini ratio) maka semakin besar tingkat
kemiskinan.
Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi yang selama ini dicapai oleh Indonesia ternyata tidak mampu
mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut
hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang di Indonesia. Efeknya akan
memunculkan kemiskinan struktural dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya
bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang kaya, sementara bagian terbesar
masyarakat yang tetap miskin.
Pengurangan
kemiskinan di suatu negara dan di waktu tertentu ditentukan secara penuh oleh
tingkat pertumbuhan ekonomi dan perubahan distribusi pendapatan. Hubungan ini
sesuai dengan teori “tricle down effect” dimana bila ekonomi tumbuh, maka
secara otomatis akan terjadi pemerataan hasil-hasil pembangunan atau perembesan
ke bawah sehingga hasil-hasil pembangungan dapat dinikmati oleh kelompok
miskin. Dengan demikian kaum miskin dapat keluar dari kemiskinannya.
4
Persentase Tenaga Kerja Di sektor Pertanian
Kemiskinan
di pedesaan di Indonesia dapat berkurang dengan meningkatkan nilai tambah hasil
pertanian. Sehingga pembangunan pedesaan dan pertanian, dimana ada kenaikan
produktivitas per hektar atau pada rumah tangga, seharusnya diprioritaskan
untuk bagian pulau di luar Jawa dan Bali dimana tingkat kemiskinannya yang
tinggi. Persentase tenaga kerja di sektor pertanian tidak mampu mengurangi
faktor penyebab kemiskinan karena sektor pertanian dan mempunyai tingkat
pendidikan SD kebawah. Oleh karena itu program pengentasan kemiskinan di sektor
pertanian perlu diprioritaskan. Pembangunan sektor pertanian melalui perbaikan
lahan pertanian, perikanan, dan kehutanan serta pembangunan masyarakat pedesaan
perlu menjadi pijakan untuk membawa masyarakat Indonesia keluar dari
permasalahan kemiskinan.
Brtikut
adalah contoh gambar kemiskinan di Indonesia;
solusi untuk meburangi kemiskinan:
a. Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokokb. Mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin
c. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat.
e. Membangun dan menyempurnakan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar